Siklus DBD memang dianggap siklus 5 tahunan dan pernah terjadi di tahun 2016 silam. Kasus DBD tinggi membuat peneliti di UGM bekerja sama dengan Monash University Australia. Kedua perguruan tinggi ini berkolaborasi mulai ternak nyamuk ber-Wolbachia.

Kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta masih terbilang cukup tinggi. Sekitar 249 kasus di Bulan Juli 2020. Sedangkan wilayah lain yang paling banyak terdampak Kabupaten Bantul dan Gunungkidul sekitar 944 kasus dan 895 kasus.

Benarkah Ternak Nyamuk ber-Wolbachia Turunkan Serangan Aedes Aygept di Yogyakartai?

Budidaya dan riset nyamuk ber-Wolbachia sudah dilakukan sejak tahun 2017. Distribusi nyamuk dilakukan di 35 titik kelurahan dengan kasus DBD tinggi.. Hal ini dilakukan agar nyamuk yang sudah diinjeksi bakteri dapat kembali ke alam dan menginfeksi nyamuk lainnya.

Uji coba di beberapa titik kelurahan di Kota Yogyakarta menunjukkan hasil konklusi penurunan kasus DBD sekitar 77%. Hasil ini cukup memuaskan sehingga perlu diparesiasi untuk direkomendasikan ke daerah lainnya. Tentunya, kamu perlu tahu segala hal tentang nyamuk “modifikasi” ini. Berikut informasinya:

1. Bakteri yang Mampu Siklus Hidup Inang

Bakteri ini dapat ditemukan pada serangga seperti kupu-kupu maupun lalat buah. Namun, pada nyamuk Aedes Aegypti tidak ditemukan. Bakteri ini dapat membuat siklus hidup inang menjadi lebih pendek.

Serangga yang menjadi inang aslinya adalah lalat buah. Penemuan ini ditemukan oleh Monash University. Pada dasarnya, keberadaan bakteri Wolbachia berada di setiap binatang serangga sekitar 70% pada tubuh inang.

2. Predator Tersembunyi

Bakteri ini dianggap sebagai predator tersembunyi bagi inangnya. Hal ini dikarenakan bakteri tidak mengubah perilaku si nyamuk. Namun, secara perlahan akan memperpendek usianya.

Apabila nyamuk yang diinjeksi bakteri Wolbachia berkembang biak dengan nyamuk biasa. Maka, keurunannya dapat dipastikan mengandung wolbachia. Hal ini akan menurunkan jumlah nyamuk secara perlahan.

Tetapi perlu disadari bahwa proses injeksi bakteri pada telur nyamuk berukuran kecil dapat memakan waktu sangat panjang. Perlu waktu bertahun-tahun untuk ternak nyamuk ber-Wolbachia dalam jumlah banyak.

Nyamuk dewasa memiliki kemampuan terbatas dalam menularkan virus zika sehingga dapat mengurangi kasus DBD di Yogyakarta maupun daerah lain yang diintervensi. Pengambilan virus berasal dari lalat buah lalu diinfeksikan pada nyamuk biasa.

3. Alasan Memilih Yogyakarta sebagai Uji Coba

Yogyakarta sebagai salah satu daerah uji coba jenis nyamuk modifikasi ini. sebelumnya, proses uji coba dilakukan di Queensland dengan hasil memuaskan. Selain terikat kerja sama dengan UGM. Kota Yogyakarta memiliki kasus DBD sangat tinggi, sehingga perlu pengendalian nyamuk Dengue jangka panjang.

Program ternak nyamuk ber-Wolbachia dengan standar emas sudah mulai digalakkan di 12 negara. Umumnya, negara tersebut memiliki kasus DBD tinggi. Beberapa diantaranya meliputi, Vanuatu, Fiji, Kolombia, Brazil, Meksiko dan lain sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here