Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo DIY, mendesak pihak Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk membuat tata ruang kawasan peternakan dengan rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dari masyarakat. Jadi pengawasan serta pemasaran produk dapat terpantau dengan baik.

Yuliantoro selaku Wakil Ketua Komisi III DIPRD Kulon Progo sendiri mengatakan jika setiap ada peternak dengan kapasitas 5.000 ekor nantinya akan berdampak pada persoalan sosial, jadi perlu adanya pemikiran untuk dapat mengembangkan kawasan peternakan untuk dapat menampung pengusaha peternakan, baik itu ayam potong ataupun ayam petelur.

“Pengembangan kawasan peternakan memang begitu penting. Sekarang ini peternakan di daerah Kulon Progo hanya ada pada lokasi tertentu dengan kapasitas di bawah 5.000 ekor. Jadi belum mampu untuk menggerakkan ekonomi masyarakat secara signifikan,” ujar Yuliantoro.

Pengaturan Tata Ruang Kawasan Peternakan di Kulon Progo

Pengembangan kawasan peternakan memang harus diatur di dalam tata ruang di Kulon Progo, tujuannya adalah agar nantinya investor serta masyarakat tertarik pada sektor peternakan dan dapat langsung berinvestasi tanpa takut adanya konflik sosial.

“Kami meminta Dinas Pertanahan dan Tata Ruang untuk dapat membuat regulasi tata ruang secara jelas yang digunakan untuk pengembangan kawasan peternakan untuk dapat meminimalisir potensi konflik sosial. Selain itu juga agar nantinya kawasan peternakan akan dapat menggerakkan ekonomi wilayah secara konsisten,” ujarnya.

Nur Eny Rahayu selaku Ketua Komisi III DPRD Kulon Progo mengatakan jika saat ini, Kulon Progo membutuhkan tata ruang dari pengembangan kawasan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun pengembangan tersebut juga harus didukung dengan tata ruang agar dapat melindungi serta meberikan kepastian untuk para ternak.

“Peternak akan lebih tenang dengan adanya kepastian tata ruang yang jelas, dibandingkan dengan mengembangkan peternakan dengan kapasitas yang kecil dan sembunyi – sembunyi,” ungkapnya.

Kawasan Peternakan Skala Kecil

Untuk sekarang ini, kawasan peternakan dengan skala kecil ada di daerah Lendah, Sentolo dan juga Kalibawang. Wilayah tersebut belum dipayungi dengan tata ruang yang jelas, jadi untuk peternakannya memang masih dalam skala rumah tangga.

“Potensi peternakan rumah tangga tersebut begitu berpotensi menimbulkan konflik sosial jika limbah peternakan tidak dikelola secara baik. Hal tersebut cukup berbeda dengan kawasan peternakan yang memiliki tata ruang kawasan peternakan secara jelas,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here