Klaim jika dedieselisasi mampu tingkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian memang sudah menjadi satu pilihan. Dimana dedieselisasi ataupun beralihnya penggunaan diesel ke listrik PLN atau Perusahaan Listrik Negara saat ini menjadi pilihan yang jitu untuk dapat meningkatkan produktivitas serta efisiensi biaya dari produksi pertanian.

Hal tersebut dilakukan sebagai sebuah upaya untuk dapat mempermudah para pejuang ketahanan pangan atau petani untuk dapat meningkatkan produksinya seiring kemajuan teknologi pertanian yang ada saat ini.

Feby Joko Prihartono yang merupakan General Manager PLN Unit Induk Distriusi Jawa Tengah dan DIY menyampaikan jika dedieselisasi adalah salah satu komitmen dari PLN untuk dapat memajukan usaha pertanian yang menggunakan green energy.

“Sesuai dengan nilai tranformasi dari PLN, seperti green, PLN selalu berkomitmen untuk dapat berkontribusi di dalam sektor pertanian dengan cara menyediakan energy secara efisien dan juga ramah lingkungan,” ujarnya.

Layanan Dedieselisasi Untuk Tingkatkan Produktivitas dan Efisiensi Pertanian

Di awal tahun 2020 hingga Agustus, terdapat sekitar 2.300 pelanggan yang ada di wilayah kerja PLN Pelaksana Pelayanan Pelanggan UP3 Surakarta yang mana beralih dari diesel ke listrik PLN dengan daya yang tersambung 8.000 kVA.

Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY, mulai dari awal tahun sampai Juli 2020 ada penambahan sekitar 2.500 pelanggan.

Untuk kedepannya, Feby sangat berharap jika nantinya akan semakin banyak para penguasaha yang mana beralih ke listrik PLN. Sehingga ekonomi daerah nantinya juga akan semakin berkembang.

Manfaat Dedieselisasi Sudah Dirasakan

Manfaat dari langkah dedieselisasi juga sudah dirasakan oleh sejumlah petani yang ada di Kabupaten Boyolali. Menurut pimpinan pabrik di bidang pembenihan padi di wilayah Boyolali, Sucipto Sudali, setelah beralih dari diesel ke listik PLN untuk biaya produksinya dapat ditekan jauh, hingga mencapai 50%.

Sucipto juga sudah mulai beralih ke listrik PLN semenjak Maret 2020.

“Sebelumnya, untuk biaya produksi menggunakan diesel menghabiskan sekitar Rp 20 juta, namun setelah menggunakan listrik dapat lebih hemar hingga setengahnya,” ujarnya.

Sucipto juga menambahkan jika menggunakan listrik untuk produksi, benih nantinya akan selalu ready stok setiap saat tanpa perlu menunggu musim. Selain itu produktivitas dan efisiensi pertanian dapat lebih maksimal karena harga juga menjadi lebih terjangkau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here