Dukungan mutlak Nahdlatul Ulama jatuh kepada pasangan Danang Wicaksana Sulistya – Agus Choliq (DWS-ACH) pada kontestasi Pilkada Sleman 2020. Keputusan tersebut dilansir oleh KH.Fahmi selaku Khatib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sleman. Nahdliyin telah mendelegasikan sikap politik kepada Tim 9 yang kemudian secara terbuka memberikan dukungan kepada pasangan DWS-ACH. 

DWS ACH bersama KH.Fahmi selaku Khatib Syuriah PCNU Sleman

Agus Choliq sendiri merupakan santri internal NU,Agus dikenal visioner dan memiliki bakat organisasi yang baik. Nama Agus choliq sendiri muncul dari seleksi internal NU dengan proses yang cukup Panjang.

Pasangan putra daerah asli sleman ini dipandang memiliki potensi yang cukup besar membawa Sleman kearah perubahan. keduanya masih sama-sama muda, dan memiliki visi yang cukup besar bagi semangat perubahan di Sleman.

Masuknya Agus Choliq dalam kontestasi pilkada Sleman 2020 dipandang sebagai manifestasi harapan kaum nahdliyin di Sleman. Ungkap Gus Fahmi,

Kalangan nahdliyin  mengharapkan adanya program riil yang dapat memberikan manfaat bagi Lembaga Pendidikan keagamaan seperti pesantren. Santri yang digembleng dengan ilmu agama juga perlu mendapat penguatan lifeskill bidang ekonomi agar dapat bersaing dan memberikan peran terhadap proses pembangunan.

Ketua Dewan Syuro PKB Sleman Nuruddin mewakili PKB mengatakan, pada Pilkada Sleman 2020 partainya tidak bisa mengusung paslon sendiri sehingga harus membentuk koalisi dengan partai lain. PKB NU bertekad dan berkomitmen memenangkan paslon DWS-ACH, keduanya dipandang memiliki integritas dan masih muda.

ULAMA JADI AJANG CARI PERHATIAN

Keputusan bulat dewan syuro dan PCNU untuk berkomitmen penuh mendukung DWS-ACH tak menutup kemungkinan bagi beberapa kelompok NU berseberangan jalan secara prinsip. Baru saja di rilis tentang dukungan kelompok “Jaringan Kyai Tahlil” terhadap pasangan nomor urut 03 yaitu Kustini-Danang. 

Tak bisa dipungkiri bahwa basis NU di Sleman sendiri cukup besar, ada 111 Pondok Pesantren yang 80% diantaranya berafiliasi terhadap NU. 

Sikap beberapa kelompok untuk bermanuver pada pilihan yang lain dan bukan sesuai pada hasil keputusan Bersama PCNU tersebut diberatkan pada beberapa kepentingan, dari segi sudut pandang dan pemahaman beberapa kelompok NU.

Yang dipandang cukup ganjil adalah visi kelompok yang berdasar pada politik,yaitu penyaluran aspirasi ulama kepada pasangan calon Kustini-Danang. Jaringan atau kelompok ini juga diresmikan tepat dalam proses kampanye.

“Jaringan ini sekaligus memberikan pemahaman yang selama ini seakan-akan kaum nahdliyin harus memilih paslon tertentu”

Statement kuat ini disampaikan pada deklarasi kelompok JKT di pondok Pesantren Al-Ikhlas, kelurahan jogotirto, kapanewon Berbah 20 Oktober 2020.

Jaringan secara terbuka mengungkapkan bahwa NU bukanlah milik satu golongan partai,kegiatan jaringan ini melibatkan kiai kampung yang memiliki majelis taklim dan mujadahan.

Adanya perihal seberti ini dipandang sudah biasa menurut PCNU, kepentingan paslon lain untuk memecah suara dan dukungan dari kaum Nahdliyin sudah kerap kali terjadi. Namun NU sendiri melalui banyak pertimbangan dan proses seleksi serta keputusan Tim 9 telah berkomitmen untuk satu suara mendukung pasangan DWS-ACH karena keduanya dianggap berpotensi untuk semangat perubahan Kabupaten Sleman.

Dinamika politik dan ulama sudah tumbuh dan mengakar cukup lama pada iklim persaingan politik di Indonesia, dan sebagai negara mayoritas muslim tak heran jika kekuatan suara dan dukungan dari kelompok ulama sangat berpengaruh. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here