Beliau memang diberikan mandat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Gunung Merapi.

Apakah Anda ingat dengan sosok Mbah Maridjan? Tokoh dari Jogja yang merupakan juru kunci Gunung Merapi yang wafat pada saat letusan dahsyat Gunung Merapi. Meskipun  terbilang sudah cukup lama, jejak – jejak letusan tersebut masih bisa ditelusuri di daerah Kinahrejo, dimana merupakan tempat tinggal dari beliau.

Semenjak status dari Gunung Merapi ditingkatkan menjadi awas di tanggal 25 Oktober 2010, para warga yang ada di radius 10 km dari puncak gunung diharuskan untuk mengungsi. Masyarakat yang ada di daerah rawan bencana juga berbondong – bondong untuk menyelamatkan diri. Tetapi beliau enggan untuk meninggalkan kampung halamannya.

Beliau memang diberikan mandate oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Gunung Merapi. Dan beliau benar – benar melakukan tugasnya tanpa beranjak dari lereng Merapi serta wafat pada tanggal 26 Oktober 2010 karena terkena awan panas.

Fakta – Fakta Menarik Mbah Maridjan

Ada beberapa fakta menarik dari sosok beliau yang sangat menarik untuk dibahas, berikut adalah beberapa di antaranya:

Tak Mau Mengungsi Karena Menunggu Wangsit Eyang Petruk

Beliau ini tidak mau mengungsi dari desanya dikabarkan karena menungu wangsit Eyang Petruk. Tetapi satu hari sebelumnya, justru sebagian besar warga melihat penampakan awan yang berbentuk tokoh wayang petruk.

Meninggal Dalam Keadaan Sujud

Ketika akan dijemput, awan panas justru menerjang rumah beliau, dimana berakibat kedua orang yang ingin menjemput tewas katena awan panas. Kemudian setelah keesokan harinya dilakukan penyisiran, salah seorang Tagana Desa Umbulharjo menemukan sesosok mayat di kamar mandi rumah Mbah Maridjan sedang sujud.

Pada awalnya memang jenazah tersebut sulit untuk dikenali karena memang kondisinya yang cukup mengenaskan, tetapi setelah diperiksa lebih lanjut, jasad tersebut adalah benar beliau.

Rumah Mbah Maridjan Dilindungi Geger Boyo

Rumah beliau ada di balik tebing yang mana disebut dengan Geger Boyo atau punggung buaya. Jika dilihat dari kejauhan, tebing tersebut memang mirip dengan punggung buaya yang sedang mengarah ke atas.

Sehingga para warga sekitar, tebing tersebut diyakini dapat melindungi rumah beliau dari semburan awan panas. Tetapi kenyataannya rumah beliau tetap tidak aman dari serangan awan panas pada tahun 2010 lalu.

Itulah beberapa fakta menarik tentang sosok Mbah Maridjan yang memiliki peranan untuk menjaga sekaligus menjadi juru kunci dari Gunung Merapi yang sangat setia sampai akhir hayatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here