Mulai awal November ini kebijakan Malioboro bebas kendaraan bermotor sudah diberlakukan. Namun ratusan bentor atau becak motor memprotes kebijakan Pemda DIY yang mana akan mencoba untuk menerapkan uji coba pedestrian di kawasan Malioboro.

Hal tersebut karena kebijakan pedestrian yang mana melarang kendaraan bermotor melintasi kawasan Malioboro dinilai merugikan mereka.

Sebelum mendatangi Pemda DIY, mereka juga sempat mendatangi kantor DPRD DIY mengenai kebijakan tersebut. Mereka meminta bantuan dari wakil rakyat agar pemda dapat memikirkan nasib mereka, terlebih di masa pandemi seperti saat ini.

“Kami sangat mendukung kebijakan pedestrian yang dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut, apapun itu kami dukung, tetapi kami juga mengharapkan untuk dibuatkan solusi, jangan lupakan perut kami,” ungkap Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta, Parmin.

Adanya Kebijakan Malioboro Bebas Kendaraan Membuat Pendapatan Menurun

Menurut Parmin, selama pandemi ini saja mereka sudah kehilangan banyak sekali pendapatan. Jika kebijakan pedestrian tersebut diberlaukan mereka semakin tidak mempunyai kesempatan untuk mencari penghasilan.

Padahal selama ini ada banyak sekali pengemudi bentor yang menggantungkan nasibnya dari pariwisata yang ada di kawasan Malioboro. Jumlah dari bentor di kawasan Malioboro dan sekitarna bahkan sudah mencapai lebih dari 200 pengemudi.

“Kami memperoleh informasi pada akhirnya boleh mangkal di beberapa sirip jalan di Malioboro pada jam operasional agar dapat operasi,” ungkapnya.

Boleh Beroperasi dengan Beberapa Syarat

Sementara Made menjelaskan jika Dishub pada akhirnya mengijinkan para bentor untuk bisa tetap beroperasi di kawasan Malioboro ketika uji coba pedestrian diterapkan 2 minggu kedepan. Tetapi ada beberapa syarat yang memang harus dipenuhi bentor.

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah pembatasan kapasitas bentor yang ada di kawasan pedestrian. Sehingga paguyuban harus dapat mematasi jumlah pengemudi untuk bisa mangkal setiap harinya.

“Batasi kapasitas dan selalu menjaga ketertiban di sana, itu saja untuk sementara,” ujarnya.

Made juga menambahkan jika mereka dapat menggunakan sirip – sirip di Jalan Malioboro untuk mangkal. Namun PBMY harus membatasi maksimal 100 bentor yang operasional di setiap harinya pada kawasan tersebut.

“Jam operasionalnya dapat diatur sendiri, karena tidak mungkin ada yang naik bentor pada jam 3 pagi,” ungkapnya.

Dengan demikian diharapkan kebijakan Malioboro bebas kendaraan bermotor dapat direalisasikan dengan baik tanpa harus melarang adanya bentor operasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here