Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan upaya untuk dapat mewujudkan program Lumbung Pangan Mataram yang ada di wilayahnya. Dengan program yang mana didanai oleh alokasi Dana Keistimewaan, tiga lokasi menjadi sasaran dari pembinaan yang dilakukan pemerintah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Suyana mengungkapkan jika ketiga lokasi lumbung pangan yang mana digagas oleh pihaknya tersebut meliputi Blunyahrejo Kecamatan Tegalrejo, Purbayan Kecamatan Kotagede sampai dengan Suryodiningratan yang ada di Kecamatan Mantrijeron.

Dirinya menjelaskan jika alokasi Danais yang sudah digelontorkan untuk dapat merealisasikan program tersebut sudah mencapai Rp 600 juta. Dengan adanya bentuk kegiatan yang berupa pembinaan wilayah hingga benar – benar mampu untuk memproduksi hasil pangan secara mandiri.

Program Lumbung Pangan Mataram Baru Pertama Kali Dikelola

Menurutnya, Dispertan baru pertama kali mengelola secara langsung program satu ini. Sehinga memang harus dipahami dengan baik.

“Pada dasarnya tahun lalu sudah terdapat empat wilayah untuk program ini. Namun hal tersebut di bawah pembinaan Pemda DIY. Sedangkan kami baru tahun ini dengan tiga lokasi. Jadi nantinya total terdapat tujuh lokasi lumbung pangan yang ada di Kota Yogyakarta,” ujar Suyana.

Aspek yang Harus Diwajibkan Ada

Beberapa lokasi yang sudah ditetapkan sebagai pelaksana program tersebut, kedepannya diwajibkan untuk dapat memenuhi tiga aspek. Yaitu karbohidrat, kemudian protein dan juga sayuran. Namun untuk jenis tanaman yang menjadi fokus garapan akan disesuaikan dengan kesepakatan.

“Jadi sebenarnya misalnya untuk dapat memenuhi aspek karbohidrat dapat dengan cara menanam ubi jalar, kemudian singkong maupun yang lainnya. Lalu untuk protein dapat diperoleh dari ayam ataupun lele. Sedangkan untuk sayuran sebaiknya memang beraneka ragam dan tidak hanya satu jenis saja. Jadi nantinya dapat bervariasi,” ujarnya.

Dirinya juga melanjutkan jika nantinya para pengelola lumbung pangan tersebut akan memperoleh pembinaan dan juga pendampingan dari deretan ahli yang berasal dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan dan Pusat Inovasi Agro Teknologi UGM. Tujuannya tentu saja untuk dapat mewujudkan hasil yang mumpuni.

“Tim tersebut sudah sangat ahli. Dimana dengan pendampingan mereka, sangat diharapkan hasil dari pengelolaan pertanian dapat maksimal. Tak hanya dari segi budaya pada lahan yang sempit saja, namun juga faktor ekonominya juga,” ungkapnya.

Satu dari tiga lokasi yang sudah terpilih untuk program Lumbung Pangan Mataram tersebut sudah menggelar panen raya perdana di awal bulan Agustus kemarin. Sehingga mulai dibudidayakan berbagai jenis tanaman, terutama sayuran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here