Tak dapat dipungkiri jika di masa pandemi seperti saat ini kebijakan perkuliahan tatap muka di beberapa kampus ditiadakan, termasuk di Universitas Gadjah Mada (UGM). UGM sudah memberlakukan sistem perkuliahan secara daring atau online secara penuh pada semester ganjil tahun ini.

Hal tersebut sempat dikeluhkan oleh beberapa mahasiswa UGM, terlebih untuk mahasiswa baru yang belum pernah sekalipun bertatap muka dengan para dosennya. Meskipun dua minggu ini para mahasiswa sudah menjalani ujian tengah semester, tetap saja kurang afdol jika tidak bertatap muka secara langsung.

“Sekarang ini kami sangat kasihan kepada para mahasiswa baru, sudah menjalankan UTS namun belum pernah ketemu dosennya secara langsung, selain itu juga belum melihat kampusnya dan hal ini banyak yang hilang,” ujar Rektor UGM, Panut Mulyono.

Momen yang Hilang Saat Kebijaan Perkuliahan Tatap Muka Ditiadakan

Panut juga menyadari jika ada suatu momen yang hilang serta berpengaruh dengan perkembangan para mahasiswa, salah satunya adalah karakter khas dari kampus UGM itu sendiri.

Mulai dari ilmu keorganisasian, kemudian juga beberapa hal lain yang mana berkaitan dengan sosialisasi di lingkungan kampus. Menurutnya pendidikan karakter tersebut hanya dapat dilakukan dengan kuliah tatap muka.

“Dalam artian mungkin saja ilmu dapat diperoleh tetapi kesan dan karakter pembangunan karakter sifat – sifat ke UGMan sulit jika dilakukan dengan daring tanpa bertemu langsung atau tatap muka,” ungkapnya.

Panut melanjutkan jika meskipun mempunyai kecerdasan yang sama, namun setiap mahasiswa tentu saja akan berbeda – beda di dalam mengarungi kehidupan setelah lulus nantinya.

“Karena perbedaan atmosfer akademik tersebut, kuliah di kampus A suasananya begini – begini, orang dengan kecerdasan yang sama memperoleh hal yang lebih banyak dibandingkan kuliah di tempat yang satunya. Hal tersebut ketika sekolah daring hilang,” ungkapnya.

Belum Memutuskan Kuliah Tatap Muka

Ketika disinggung kapan dapat dilaksanakan kuliah tatap muka, Panu mengaku jika dirinya masih belum dapat memutuskan. Tetapi pihak kampus akan tetap mengevaluasi hal terseut untuk semester depan.

“Saat ini sudah kami putuskan sampai pada akhir semester ini itu daring. Namun kami akan mengevaluasi untuk semester depan yang mana dimulai dari bulan Januar sampai Februari,” ujar Panut.

Menurutnya ada beberapa peraturan yang tidak bisa dilanggar, misalnya pertimbangan dari pemerintah DIY yang terkait oleh tidaknya mengadakan kegiatan belajar secara tatap muka di lingkungan kampus.

“Kami nantinya akan melihat seperti apa kebijakan dari Pemda. Pada saat Pemda DIY sudah memberikan lampu hijau, tentu saja kami akan mengaturnya secara detil, mulai dari seperti apa pelaksanaan kebijakan perkuliahan tatap muka dapat kami jalankan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here