Kebijakan layanan kesehatan dilarang tutup di saat libur panjang sudah menjadi salah satu kebijakan pemerintah Yogyakarta. Tidak hanya puskesmas saja, namun juga semua layanan kesehatan.

Mengingat pekan depan merupakan cuti bersama sehingga menjadi libur panjang kurang lebih selama lima hari. Dimana dimulai dari hari Rabu sampai dengan Minggu, 28 Oktober sampai 1 November 2020.

Pembayun Setyaning Astutie selaku Kepala Dinas Kesehatan DIY mengatakan jika sebanyak 78 rumah sakit dan 49 puskesmas rawat inap akan tetap beroprasi non stop selama libur panjang nantinya.

“Kami akan tetap memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal untuk masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta,” ujar Pembayun.

Layanan kesehatan tersebut, menurutnya adalah sebagian besar terletak di suatu destinasi wisata pada lima kabupaten atau kota di Yogyakarta. Dimana prosedur pelayanan nantinya akan mengadopsi sistem ketika menyambut hari raya besar keagamaan. Dalam artian pemberlakuan sistem petuhan yang jaga secara bergilir dalam waktu tertentu.

Sedangkan untuk puskesmas yang tidak menyediakan pelayanan rawat inap, nantinya juga wajib untuk beroperasi dengan cara menerapkan sistem piket.

Kebijakan Layanan Kesehatan Dilarang Tutup Sudah Diedarkan

Berty Murtiningsih selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DI mengatakan jika kebijakan operasional layanan kesehatan untuk puskesmas rawat inap dan rumah sakit sudah disampaikan melalui sebuah surat edaran ke semua kabupaten atau kota di Yogyakarta.

“Pelayanan yang terkait dengan covid-19 tidak akan membedakan mana wisatawan dan non wisatawan,” ungkap Berty.

Masyarakat dan Wisatawan Diharap Patuh Pada Protokol Kesehatan

Singgih Rahardjo yang merupakan Kepala Dinas Pariwisata DIY juga mengatakan jika petugas akan selalu mengingatkan agar para warga Yogyakarta serta wisatawan dapat mematuhi protokol kesehatan, yaitu memakai masker, kemudian mencuci tangan dan menjaga jarak.

Dan setiap destinasi wisata juga harus dapat membatasi jumlah dari pngunjung, yaitu 50% dari kapasitas maksimal.
“Agar wisatawan bisa menjaga jarak dan juga tidak terjadi kerumunan,” ujar Singgih.

Wisatawan juga harus mengunduh aplikasi Visiting Jogja untuk dapat mendata, kemudian memantau dan juga memudahkan mereka ketika berkeliling Kota Yogyakarta.

Dari aplikasi tersebut, nantinya pemerintah juga bisa mengetahui apakah destinasi wisata tersebut sudah melebihi kapasitas atau belum. Platform itu juga bisa melacak aktivitas wisata yang dilakukan pengunjung.

Untuk wisatawan dari zona merah covid-19, diwajibkan harus membawa surat keterangan sehat dan menertakan minimal hasil dari rapid test. Jadi tak perlu khawatir karena kebijakan layanan kesehatan dilarang tutup sudah dipastikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here