Semenjak masa pandemi banyak UMKM di berbagai bidang mengalami penurunan omzet secara drastis. Sehingga sekarang ini sebagian besar dari mereka mencari berbagai macam cara untuk dapat menaikan kembali omzet tersebut. Salah satu cara untuk hidupkan UMKM sendiri adalah dengan pengadaan tempat cuci tangan yang ada di banyak tempat.

Selain untuk dapat menegakan adaptasi kebiasaan baru, yaitu dengan cuci tangan, hal tersebut dipilih sebagai suatu strategi untuk dapat menghidupkan kembali UMKM di tengah krisis.

Biwara Yuswantana selaku Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY mengatakan jika semua itu dapat dilakukan dengan menggunakan APBD provinsi dan kabupaten/kota atau isa juga bantuan CSR dari beberapa perusahaan.

“Kami sangat mendukung dengan APBD pengadaan beberapa tempat cuci tangan, misalnya untuk pasar, objek wisata dan fasilitas umum. Itu menjadi strategi kami di awal untuk dapat menghidupkan UMKM.

Buat tempat cuci tangan dengan gerabah isalnya. Jadi UMKM dapat hidup dan juga program kita untuk cuci tangan dapat berjalan, termasuk dari CSR perusahaan dan yang lainnya,” ujarnya.

Kriteria Tempat Cuci Tangan Untuk Hidupkan UMKM

Mengenai standar tempat cuci tangan, Biwara menjelaskan jika tidak ada standar tertentu. Yang terpenting adalah menggunakan air mengalir dan juga sabun cuci tangan. Selama ini, Pemda DIY sudah melakukan upaya sosialisasi 3M dengan berbagai cara. Yang pertama adalah melalui kebijakan pemerintah.

“Pada awal Maret Gubernur sudah langsung membuat surat edaran untuk waspada pada potensi penularan corona, dengan mengenakan masker, cuci tangan dan yang lainnya,” imbuhnya.

Selain itu, Gubernur juga sejak awal sampai saat ini menjadikan masyarakan sebagai subjek dengan cara menumbuhkan kesadaran akan gerakan 3M.

Sudah Memiliki Penegak Hukum Untuk Mengawasi

Jika ditanya mengenai beberapa tempat usaha yang masih belum menyediakan tempat cuci tangan, Biwara menjelaskan jika Pemda DIY sudah mempunyai bidang penegak hukum untuk dapat mengawasi dan juga mengevaluasi hal tersebut.

Menurutnya, pendekatan di beberapa tempat usaha yang belum menerapkan protokol kesehatan tersebut dilakukan dengan beberapa tahap. Mulai peringatan sampai dengan penutupan.

“Tempat usaha yang mana belum menyediakan tempat cuci tangan dari penegak hukum yang mana mengawasi, melakukan evaluasi. Terdapat beberapa tahap seperti peringatan, jika ada kasus dapat dilakukan penutupan. Memang tidak bosan kami melakukan semua itu.

Seperti membudayakan memakai helm pada awalnya juga sulit, yang terpenting adalah agar dapat hidupkan UMKM,” ungkap Biwara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here