FKY 2020 | MULANIRA 2 AKAR HENING DI TENGAH BISING

Jika membuka dokumentasi dari pelaksanaan FKY beberapa tahun silam, maka kita akan melihat berbagai ragam upaya untuk menghadirkan apa yang paling ‘Jogja Banget’ dari masa ke masa. Baik program, judul, perwajahan dan filosofi yang dipegang di tiap penyelenggaraan, diambil dari praktik kesenian, atau kebudayaan yang ada kota ini. Pemilihan posisi tersebut hampir tidak pernah absen, dan sangat bisa dimengerti, mengingat bahwa keberadaan suatu festival tidak dapat dipisahkan dari watak ruang sosialnya. Betul bahwa apa yang dimaksud dengan ‘Jogja banget’ tentu selalu dinamis, berubah dari waktu ke waktu dan memunculkan selera bahasanya sendiri. Terbukti, bahwa hari ini, sudah sangat jarang kita mendengar istilah ‘Jogja banget’, untuk membahas perihal karakter kota.

KONSEP DARING DAN LURING DIUSUNG DALAM FKY 2020 | mulanira

Di tahun 2020 ini, FKY kembali hadir. Kehadiran ini tentunya lahir di atas berbagai tantangan zaman. Sejak tahun lalu, FKY 2020 hadir mereposisi diri seturut dengan perubahan nama menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. Bagi kami, perubahan nama ini menarik jika kita tempatkan sekaligus sebagai momen untuk melihat dan menata ulang paradigma kita dalam memandang serta memposisikan festival kesenian sekaligus festival kebudayaan.

Daya Juang masyarakat Jogja

Sebelum kita lanjutkan dengan pembahasan yang mengarah ke upaya tersebut, nampaknya baik jika kita mundur sejenak untuk melihat perjalanan panjang dari acara tahunan kota ini, kemudian menandai berbagai hal yang hampir selalu muncul, kehadirannya tidak terlalu menonjol, tapi ia selalu hidup.

Yang pertama ialah daya warga. Daya atau kekuatan dan kreativitas warga dalam menghadapi berbagai kebutuhan hidup serta menyiasati kesulitan hidup, nampak dari ragam program yang dimunculkan di penyelenggaraan festival ini. Yang termudah dan paling jelas adalah hadirnya ragam pasar seni yang ditawarkan pada publik dari waktu ke waktu, berubah bentuk, beragam jualan. Tidak pernah surut merebut perhatian, sekalipun sudah banyak mall dan pertokoan yang mewah dan dingin. Daya warga ini berjalan beriringan dengan minat warga untuk mengapresiasi berbagai kebaruan dan ragam kreativitas.

Nampaknya, daya warga ini beresonansi dengan kekuatan lainnya dalam membuat pembacaan atas gerak zaman. Daya baca inilah yang juga menjadi penentu dalam membuat langkah-langkah praktis maupun filosofis, yang kemudian berpengaruh pada hidup individu dan hidup sosialnya. Semuanya berjalan saling beririsan atau bahkan saling mengadakan. Singkatnya, kita selalu memiliki cara untuk mengidentifikasi apa yang menjadi spirit zaman, dari waktu ke waktu. Hal yang kedua ini memang tidak selalu nampak, tetapi sepertinya bisa kita rasakan.

Rezim Efektifitas & Pemajuan Budaya

Kombinasi antara daya apresiasi dan daya baca ini menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, serumit apapun. Meski sederhana bagi kita, hal itu tidak salah jika kita rayakan sekaligus kita uji untuk bersama-sama menghadapi berbagai kecenderungan zaman hari-hari ini. Mulai dari tantangan yang muncul di era pemajuan kebudayaan 4.0 hingga rezim efektivitas yang datang dengan berbagai wajah.

Permainan waktu ini juga bisa kita rasakan hadir dari berbagai pemain, mulai dari upaya percepatan pembangunan yang berambisi menjadikan Jogja sebagai kota dengan industri pertemuan paling mutakhir, serta usaha-usaha yang selalu menuntut kenaikan ekonomi atas nama kepentingan bersama. Di titik ini, kita sesungguhnya menyadari bahwa hidup kita senantiasa berada di tengah-tengah konflik antara efektivitas yang ini dan efektivitas yang itu. Efisiensi yang ini dan efisiensi yang itu. Sebagai contoh, untuk mempercepat perpindahan manusia, dari satu tempat ke tempat lain, kita mempunyai alat transportasi, yang digerakkan dengan bahan bakar, bensin, solar. Untuk mempercepat mobilitas manusia, kita rela mempertaruhkan keberadaan energi yang suatu saat tidak dapat diproduksi dalam waktu cepat, dan lambat laun membuat bumi menjadi cepat lelah. Itu artinya, efisiensi yang satu mengorbankan efisiensi yang lainnya. Kebudayaan adalah juga soal hal itu. Kebudayaan juga mencakup bagaimana kita mengelola kehidupan bersama ini? teknologi apa saja yang dilibatkan di situ? Bagaimana efek-efeknya?

Tantangan perihal melihat kembali pengelolaan teknologi hidup ini semakin didesakkan dengan hadirnya pandemi. Kemunculan protokol pencegahan penyebaran covid adalah contoh cepatnya. Ia hadir sebagai teknologi yang secara spontan muncul, untuk menghindari ledakan penularan yang tidak diinginkan.

MULANIRA di FKY 2020

Di atas kondisi-kondisi tersebut, FKY 2020 kali ini meneruskan Mulanira. Lahir sebagai festival kesenian, kini FKY menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. Di tahun yang kedua sebagai festival kebudayaan ini, kita melanjutkan untuk meneruskan spirit Mulanira. Diambil dari Mulih, Mula, Mulanira, kita menggarisbawahi spirit untuk melihat, menyimak dan membaca kembali berbagai pengetahuan yang telah hadir di sekitar kita. Pengetahuan yang dipraktikkan sebagai bagian dari hidup sehari-hari, yang meliputi upaya untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan segala ragam tantangan, baik tantangan alam ataupun tantangan kultural.

Di Mulanira kedua ini kita melanjutkannya dengan spirit “Akar Hening di Tengah Bising”. Mengingat watak ruang sosial yang kita huni, karakter dari kota yang didiami dan sekaligus menjadi domisili tetap untuk festival ini. “Akar Hening di Tengah Bising” juga merupakan pengingat, bahwa seramai apapun kondisi yang harus kita jalani, kita tetap memiliki ruang dalam mengupayakan produksi pengetahuan, memperlebar celah-celah ruang yang menghidupi kekuatan bertahan warga dan mempertajam daya baca kita.

Di antara berbagai daya dan upaya itu semua, nampaknya Mulanira bisa mengingatkan kita, bahwa FKY tidak semata-mata Festival Kebudayaan Yogyakarta. Mulanira mengajak kita untuk melanjutkan perjalanan kita menuju festival dengan banyak ‘k’ kecil yang banyak dan ‘y’ yang lebih demokratis. Dengan Mulanira kita menyambut fkkkkkkkkyyyyyy di kota Yogyakarta yang berhahahahaha…ti nyaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here