Budaya ritual saparan bekakak adalah salah satu budaya yang masih dilestarikan di Yogyakarta. Mengingat ketakutan dari masyarakat Indonesia pada kekuatan alam dan kecintaan pada budaya spiritual ikut menumbuhkan berbagai macam tradisi yang masih lestari hingga saat ini.

Tradisi budaya satu ini masih rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Tradisi tersebut berwujud persembahan untuk bentuk tolak bala. Tradisi tesebut dikatakan saparan karena upacaranya diselenggarakan di ulan sapar atau syafar, dimana bulan kedua dalam kalender islam.

Sedangkan untuk bekakak sendiri artinya adalah korban penyembelihan dengan wujud hewan atau manusia. Tetapi untuk manusia yang dimaksud di dalam upacara ini sendiri adalah tiruan yang wujudnya sepasang boneka pengantin yang posisinya sedang duduk bersila. Boneka tersebut dibuat dari ketan yang isinya cairan sirup gula merah.

Awal Mula Budaya Ritual Saparan Bekakak

Ritual satu ini tentu saja ada sejarahnya, dimana cukup menarik untuk dibahas dan diketahui. Oleh karena itu, Anda bisa tahu sedikit informasinya seperti berikut:

1. Bermula dari Suatu Bencana

Adanya budaya ritual bekakak ini sendiri awal mulanya dari suatu musibah yang mana menimpa Kyai dan juga Nyai Wirosuto. Dimana keduanya adalah pasangan suami istri yang merupakan abdi dalem dari Pangeran Mangkubumi atau raja pertama di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagai seorang waja baru, sultan ini bermaksud untuk mendirikan suatu istana sebagai kediamannya. Dan sembari menunggu pembangunan tersebut selesai, sultan memilih pesanggrahan Ambar Ketawang sebagai tempat tinggal sementara.

Dari beberapa orang menjadi abdi dalem Keraton, Kyai dan Nai Wirosuto tersebut menjadi yang paling setia dan rajin.
Setelah bangunan Keraton selesai, sultan pindah ke bangunan Keraton tersebut dan Kyai serta Nyai Wirosuto memutuskan tinggal dan merawat pesanggrahan Ambarketawang tersebut.

Namun saat Jumat Kliwon bulan sapar, terjadi musibah runtuhnya pesanggrahan dan memakan banyak korban, salah satunya Kyai dan Nyai Wirosuto.

Setelah kejadian tersebut, sering terjadi musibah yang memakan banyak korban yang membuat masyarakat menjadi resah. Setelah itu Sri Sultan Hamengkubuwono I bertapa di Gunung Gamping yang mana sultan mendapatkan bisikan meminta korban sepasang pengantin di setiap tahun untuk ganti batu kapur yang digali masyarakat.

2. Prosesi Ritual

Pelaksanaan dari ritual ini dibagi beberapa tahap, yaitu midodareni pengantin bekakak, kirab sampai dengan penyembelihan pengantin bekakak dan juga sugengan ageng.

Itulah sedikit informasi tentang budaya ritual saparan bekakak yang dapat Anda ketahui, dimana menjadi daya tarik dari Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here