Aksi mengembala ayam yang dilakukan oleh peternak ayam di Lapangan Karang, Kotagede, Yogyakarta memiliki keunikan tersendiri dan menjadi satu aksi sebagai bentuk protes karena harga ayam yang anjlok di pasaran. Sehingga para peternak merugi karena biaya produksi yang tidak sesuai dengan harga jual.

“Kami melepeaskan ayam – ayam tersebut untuk mencari makannya sendiri sebagai sebuah bentuk protes atas turunnya harga,” ungkap Tatag Yudho.

Dirinya mengaku jika banyak yang terkena imbas dari hal ini, mulai dari gulung tikar sampai dengan pekerja yang dirumahkan karena harga ayam yang ada di peternak tersebut turun. Sehingga Tatah mewakili para peternak berharap jika pemerintah dapat turun tangan untuk bisa mengatasi anjloknya harga ayam yang ada di peternak.

“Harapannya adalah pemerintah bisa mendengarkan keluhan dari para peternak yang ada di Jogja ini,” ucapnya.

Sebagai gambaran yang sederhana, harga dari pokok penjualan peternak sekitar Rp 17 ribu sampai 18 ribu. Tetapi harga jual dari ayam yang ada di kandang sempat menyentuh angka Rp 5 ribu perkilonya di beberapa waktu lalu.

Aksi Mengembala Ayam Dilakukan Karena Kondisi yang Merata

Turunnya harga ayam tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Yogyakarta saja, namun juga di beberapa wilayah yang juga mengalami permasalahan yang sama.

Dalam kondisi normal, harga ayam yang ada di kandang erkisar antara Rp 18 ribu sampai 19 ribu perkilonya. Tetapi sekarang ini berkisar antara Rp 6 ribu sampai 9 ribu perkilonya.

“Namun mengapa harga di pasaran bisa dibilang masih tinggi, yaitu sekitar Rp 30 ribuan,” ungkap Muhammad Miftahudin, peternak yang ada di Kuningan, Jawa Barat.

Miftah juga menjelaskan jika turunnya harga ayam yang ada di tingkat peternak tersebut terjadi semenjak merebaknya wabah covid-19 di Indonesia.

Kondisi Semakin Memburuk

Kondisi tersebut juga semakin memburuk setelah adanya pemberitahuan work from home diberlakukan. Bahkan untuk saat ini harga juga semakin jatuh setelah beberapa daerah sudah mulai menerapkan PSBB.

Dirinya menduga jika turunnya harga ayam tersebut disebabkan oleh over supply di perusahaan besar. sedangkan untuk demandnya berkurang karena kebijakan PSBB tersebut. Selain itu juga diduga karena ulah mafia pangan yang mana ingin mengambil untung di tengah wabah tersebut. Karena harga ayam yang ada di pasaran masih tinggi.

“Ketika kami menjualnya secara langsung ke masyarakat, ternyata hasilnya laris manis. Itu berarti masalahnya ada di tengah. Karena jika karena covid-19, pembelian ayam sepi, tidak laris dan harga yang ada di pasaran juga turun. Namun kali ini harganya tetap tinggi,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap dengan adanya aksi mengembala ayam ini, pemerintah dapat memberikan solusi yang terbaik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here