Ada 3 tokoh Mataram yang mana diceritakan di dalam sebuah Opera Tobong Kelana Bakti Budaya, dimana tokoh tersebut adalah Pakubuwono III, kemudian Pangeran Diponegoro dan juga Sri Sultan Hamngkubuwono IX. Ketiga tokoh tersebut diceritakan bersama dalam melawan kekuatan asing.

Pakubuwono III ini sebagai tokoh yang bersemangat dalam melawan pihak asing yang mana ingin menguasai wilayah Mataram.

Kemudian Pangeran Diponegoro adalah salah satu kerabat dari Keraton Yogyakarta yang tidak mau tinggal dalam Keraton namun melakukan perlawanan pada Belanda yang menimbulkan Perang Jawa.

Sedangkan untuk Sri Sultan HB IX adalah salah satu tokoh yang bisa dibilang sangat krusial dalam detik – detik bergabungnya Yogyakarta di dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kisah 3 Tokoh Mataram Dipentaskan

Kisah dari ketiga tokoh besar tersebut dipentaskan oleh sebuah sanggar seni, yaitu Sanggar Seni Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya dengan tajuk “3 Tokoh Mataram Penantang Zaman” di dalam sebuah acara Yogya Semesta edisi 134 yang diselenggarakan di Pendapa Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan.

“Ketiga tokoh besar tersebut saya angkat ke dalam cerita ini karena mereka merupakan orang – orang yang pernah mendobrak ataupun mendorong hengkangnya koloni Belanda dari tanah Mataram,” ungkap Risang Yuwono yang merupakan Pimpinan Sanggar Seni Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya.

Dalam pementasan tersebut, digambarkan seperti apa gigihnya ketiga tokoh tersebut dalam melindungi dan juga menyelamatkan tanah Mataram dari penjajahan Belanda.

Kegigihan itu sendiri ditunjukkan ke dalam bentuk langkah diplomasi dan juga langkah peperangan dengan cara tersendiri.
Risang juga mencontohkan jika Pangeran Diponegoro pernah menjadi salah satu tokoh yang memulai Perang Jawa dan hampir membuat Belanda bangkrut secara ekonomi.

“Perang Jawa pernah terjadi pada tanah Mataram di abad 17 – 18 yang berlangsung cukup lama, jadi membuat Dutch Bank atau Bank Belanda bisa dibilang hampir bangkrut untuk membiayai perang tersebut. Pada akhirnya Belanda tersebut hengkang dari tanah Mataram,” ungkapnya.

Cerita Dikemas Secara Sederhana

Ketoprak yang mana berlangsung cukup singkat tersebut dikemas secara sederhana di dalam tiga babak saja, tetapi tetap menampilkan keseluruhan cerita secara utuh.

Untuk Sanggar Ketoprak Tobong tersebut, pagelaran satu ini merupakan suatu momen yang penting karena masih bisa berpentas meskipun di tengah situasi pandemi seperti saat ini dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Cerita 3 tokoh Mataram tersebut merupakan sebuah kenekatan yang perlu kami respon untuk dapat mencoba melakukan relaksasi dari sejarah kering padat dan tidak terdeteksi. Untuk lahaan sawah non produktif, kering ataupun ditumbuhi ilalang,” ujar Risang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here